Jangan Sampai Nyesel Setelah Akad
Membeli properti sering disebut sebagai keputusan besar dalam hidup.
Sayangnya, banyak orang justru terjebak kesalahan yang sama, bukan karena kurang uang—tetapi karena kurang persiapan dan informasi.
Yang lebih menyakitkan?
Kesalahan dalam properti biasanya baru terasa setelah akad ditandatangani.
Berikut adalah kesalahan paling sering terjadi saat membeli properti, dan kenapa kamu perlu menghindarinya sejak awal.
1. Terlalu Fokus Harga, Lupa Biaya Lain
Harga rumah terlihat “murah”.
Cicilan terasa “masuk akal”.
Tapi setelah proses berjalan, baru sadar: biayanya jauh lebih besar dari yang dibayangkan.
Biaya yang sering terlupakan:
- Pajak (BPHTB, PPN)
- Biaya notaris
- Biaya KPR & asuransi
- Biaya AJB & balik nama
- Biaya renovasi awal
💡 Insight penting:
Harga rumah itu baru “tiket masuk”, bukan total biaya sebenarnya.
2. Membeli Karena Promo, Bukan Kebutuhan
Diskon DP.
Free biaya KPR.
Bonus AC, kanopi, atau kitchen set.
Promo memang menarik, tapi masalah muncul ketika keputusan membeli lebih didorong emosi daripada kebutuhan.
Akibatnya:
- Rumah terlalu jauh dari aktivitas
- Ukuran tidak sesuai rencana jangka panjang
- Lokasi sulit berkembang
Promo boleh jadi pertimbangan, tapi fungsi dan tujuan harus tetap nomor satu.
3. Tidak Cek Legalitas dengan Detail
Ini kesalahan paling fatal, tapi masih sering terjadi.
Beberapa pembeli hanya percaya pada:
“Aman kok, ini developer besar.”
Padahal yang perlu dicek:
- Status sertifikat (SHM / HGB)
- IMB / PBG
- Izin pengembangan kawasan
- Kejelasan site plan
- Status tanah (tidak sengketa)
❗ Catatan penting:
Nama besar developer tidak menggantikan kewajiban cek legalitas.
4. Tidak Memikirkan Nilai Jangka Panjang
Banyak orang membeli rumah hanya dengan pikiran:
“Yang penting bisa ditinggali.”
Padahal properti adalah aset jangka panjang.
Yang perlu dipikirkan:
- Apakah lokasi berkembang?
- Apakah mudah disewakan?
- Apakah mudah dijual kembali?
- Apakah akses & infrastruktur mendukung?
Rumah yang nyaman hari ini belum tentu bernilai tinggi di masa depan.
5. Mengabaikan Lokasi demi Ukuran
Rumah besar tapi jauh dari mana-mana.
Rumah luas tapi akses terbatas.
Ini dilema klasik.
Faktanya:
- Lokasi strategis lebih mudah naik harga
- Rumah kecil di lokasi bagus lebih likuid
- Properti dekat fasilitas selalu punya peminat
🏡 Prinsip properti yang tidak pernah berubah:
Lokasi mengalahkan luas bangunan.
6. Tidak Menyesuaikan Cicilan dengan Gaya Hidup
Kesalahan ini sering terjadi karena ambisi.
Cicilan “masih bisa”, tapi:
- Tidak ada dana darurat
- Tidak ada ruang untuk kebutuhan lain
- Sedikit gangguan keuangan langsung panik
Idealnya:
- Cicilan maksimal 30–35% dari penghasilan
- Masih ada ruang untuk hidup, menabung, dan investasi lain
Properti seharusnya membuat hidup lebih tenang, bukan lebih tertekan.
7. Terburu-buru Tanpa Riset
Takut kehabisan unit.
Takut harga naik.
Takut kalah cepat.
Akhirnya beli tanpa:
- Survei lokasi
- Bandingkan proyek lain
- Pahami lingkungan sekitar
Padahal properti bukan beli gorengan.
Waktu riset jauh lebih murah daripada biaya penyesalan.
Beli Properti Itu Soal Keputusan, Bukan Sekadar Transaksi
Kesalahan membeli properti tidak selalu terlihat di awal.
Tapi efeknya bisa terasa bertahun-tahun kemudian.
Properti yang baik bukan yang paling cepat dibeli,
melainkan yang paling matang dipertimbangkan.
“Lebih baik telat beli properti, daripada cepat beli tapi salah.”

